Friday, April 12, 2013

Mengubah Cara Pandang

Suatu hari seorang guru membawa secarik kertas ke hadapan para muridnya. Dengan santai dia tunjukkan kertas berwarna putih itu. Kemudian di hadapan murid-muridnya diapun mulai menggambar. Sebentar saja dia menggambar lalu menunjukkan hasil gambarnya ke murid-muridnya.

Ternyata guru tersebut menggambar sebuah titik di tengah-tengah kertas tersebut. Guru itupun bertanya pada murid-muridnya, "Apa yang kalian lihat?"

Murid-muridnyapun dengan serempak menjawab. "Sebuah titik hitam!"

Guru itupun tersenyum dan bertanya kembali, "Benarkah hanya itu yang kalian lihat?"

Murid-muridnya cuma terdiam, bingung, tak tahu harus berkata apa. Bagaimana dengan kita? Jika kita menjadi sang murid apakah kita akan menjawab hal yang sama dengan mereka? Okelah mungkin pertanyaannya salah, tapi apa iya? Kan, yang ditanya adalah apa yang kalian lihat, bukan apa yang saya gambar.

Kadang suatu titik hitam lebih menarik untuk diperhatikan ketimbang sisa bidang putih yang masih luas yang tersisa pada kertas tadi. Kadang memang keburukan walau sekecil apapun lebih mudah dikenang dan diingat-ingat dibanding sejuta kebaikan.

Cara pandang yang diubahkan adalah salah satu cara agar anda dan saya bisa melihat kebaikan jauh lebih banyak ketimbang keburukan. Perhatikanlah hal-hal yang baik dan jadilah bijak!

Thursday, April 4, 2013

Makan Siang Bersama Tuhan

Di Karubaga December 2006 (Dok. Pribadi)
Seorang anak kecil dengan bersemangat menyiapkan bekalnya saat semua orang saat itu masih tertidur lelap. Anak kecil itu hanya punya satu tujuan: mencari dan bertemu dengan Tuhan. Karena itu dia menyiapkan bekal yang cukup banyak. Pikirnya, pasti butuh waktu lama untuk mencari dan bertemu dengan Tuhan.

Dia membawa beberapa potong roti dan 2 botol susu coklat kegemarannya. Setelah semuanya masuk dan terkemas rapi, dia tampak duduk menunggu. Menunggu agak fajar sehingga terang fajar bisa menerangi tiap langkah yang akan dia ambil.

Ketika fajar menyingsing, anak itu pun mulai berjalan. Dengan langkah riang dia berjalan sambil menikmati setiap hal baru yang ditemuinya. Tapi dimanakah Tuhan itu?

Ketika hari beranjak siang, anak itu bertemu dengan seorang lelaki tua yang sedang duduk di taman memberi makan burung-burung. Anak itupun lalu mendekat dan duduk di samping lelaki tua itu. Karena sudah siang maka ini waktunya untuk menikmati bekal yang dia bawa. Anak itupun mengeluarkan roti bekalnya. Lelaki tua itu hanya menatapnya saat dia mengeluarkan roti itu. Lalu anak itu pun menawarkan rotinya pada lelaki tua itu. Lelaki tua itu tersenyum lebar sambil menerima pemberian anak itu. Dia hanya tersenyum tak berkata apa-apa. Senyum lelaki tua itu sangat luar biasa menarik perhatian anak kecil itu. Anak itu merasa lebih menikmati bekalnya. Karena sangat senang, anak itupun menawarkan sebotol susu pada lelaki tua tadi. Lagi-lagi sebuah senyum yang indah mengiringi diterimanya sebotol susu dengan penuh suka cita oleh si lelaki tua. Anak itu pun tersenyum. Tak ada yang mereka perkatakan satu sama lain.

Saat mentari mulai tenggelam, mereka berdua beranjak pulang. Sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh, anak kecil itu berbalik dan memeluk lelaki tua itu. Hanya senyuman lebar tanpa kata yang lelaki tua itu berikan.

Setibanya di rumah, ibu anak kecil itu merasa heran melihat anaknya sangat gembira. Tanpa ditanya anak itu berkata pada ibunya, "Bu, hari ini saya makan siang bersama Tuhan di taman. Senyumnya sangat indah. Senyum yang belum pernah aku lihat selama ini". Ibunya hanya tersenyum mendengar cerita anak itu.

Lelaki tua tadi juga pulang ke rumah. Sampai di rumah dia berkata pada istrinya, "Hari ini aku makan roti dan minum sebotol susu bersama Tuhan di taman. Dan ternyata dia sangat muda dari yang kuduga sebelumnya."

Kadang kita tidak pernah menyadari bahwa senyuman, perkataan, perhatian kecil, dan pemberian yang tulus itu sangat berarti bagi orang lain. Semua hal itu dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik tanpa kita sadari.

Wednesday, March 27, 2013

Diutus atau Ditempatkan?


Sinakma - Wamena - Papua (dok. pribadi)

Pertanyaan di atas sering mengemuka sejalan dengan adanya beberapa perubahan cara pandang di organisasi dimana saya bernaung. Pertanyaan itu hanya satu dari sekian pertanyaan yang bisa dikembangkan lagi. Contohnya: “Melamar atau ditunjuk?”, “Melayani atau sekedar Bekerja?”, “Philantrophy (bagi-bagi) atau Community Development?”, dan masih banyak lagi.

Konon ceritanya dulu, seorang pengembang masyarakat atau Change Agent adalah seorang yang diutus di tengah-tengah masyarakat yang paling miskin, paling tertindas, dan paling membutuhkan bantuan. Bantuan ini bisa macam-macam. Bisa bantuan skill atau keterampilan agar si masyarakat bisa berkembang dan pada akhirnya akan dapat menolong dirinya sendiri dan dan akhirnya menolong orang lain, atau bisa berupa bantuan langsung yang menjawab kebutuhan yang mendesak saat itu.

Perbedaan cara pandang mulai terasa tatkala organisasi harus berbenah. Dalam proses pembenahan tadi, ada standar yang harus digunakan. Standar ini termasuk dalam standar perekrutan karyawan dan bagaimana menghargai karyawan sesuai dengan prestasi dan kinerjanya. Standar yang digunakan bisa membuat sendiri, bisa mengacu pada organisasi yang sama di negara lain, atau lebih mudah jika melihat standar yang digunakan organisasi lain dan menerapkannya di organisasi ini.

Perubahan standar sebenarnya sah-sah saja dalam sebuah organisasi yang terus berkembang. Hanya, perlu diperhatikan bagaimana sosialisasinya. Apakah standar baru itu hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, atau benar-benar disosialisasikan ke semua karyawan tanpa kecuali. Setiap karyawan entah itu yang baru bekerja atau yang sudah lama bekerja, diberikan pemahaman yang sama. Memang sulit mengandalkan satu level tertentu dalam organisasi untuk melakukan sosialisasi ke seluruh karyawan. Mengapa? Karena dalam satu level itu ada banyak orang yang masing-masing mungkin punya cara pandang yang berbeda, tingkat pemahaman yang berbeda, atau bahkan tingkat… maaf.. kecerdasan yang berbeda pula. Organisasi yang baik harus bisa mensosialisasikan segala jenis kebijakan, standar, dan apa-apa yang perlu diketahui karyawan secara terbuka. Setiap karyawan bisa mengakses informasi yang sama. Bagaimana caranya? Informasi tentang kebijakan harus berasal dari satu orang yang dipercaya, kemudian diteruskan ke salah satu level, pastikan setiap orang di level itu paham dan mengerti pesan yang disampaikan, minta setiap orang pada level tersebut untuk menjelaskan ke staf yang ada di bawahnya, monitor saat orang pada level tersebut menyampaikan pesan pada stafnya, apakah pesan yang disampaikan benar-benar sama dengan pesan awal, pastikan hal yang sama untuk setiap level di bawahnya, demikian seterusnya…

Kembali lagi ke masalah “diutus atau ditempatkan” tadi, saya pribadi lebih suka menggunakan kata “diutus”. Dalam hal ini “diutus” bukan oleh organisasi saja, melainkan juga oleh DIA yang memiliki pelayanan ini. Yang tidak setuju lagi-lagi akan bertanya, “Iya kalau ini pelayanan, bagaimana kalau ini hanya pekerjaan?”. Nah, kalau sudah begitu perlu satu artikel lagi untuk menjelaskannya. Mungkin lirik lagu yang satu ini bisa menjelaskan sedikit:

Kerinduanku slalu berada di tempat Kau berada
Kerinduanku slalu bekerja seperti Bapaku bekerja
Kudengarkan Tuhan isi hatiMu
saat Kau panggil ku siap

Ini aku utuslah Tuhan
Ini aku utuslah Tuhan
kemana pun Kau pimpin
ke negri yang Kau pilih
Ini aku utuslah Tuhan
dan ku kan pergi

(Franky Sihombing: Ini Aku, Utuslah Tuhan)
 
Jadi,  prinsipnya begini, “Karena ketika kita diutus, kita tidak peduli lagi kemana kita akan pergi. Yang kita pedulikan hanya satu, yaitu menyenangkan DIA yang mengutus kita”.

Selamat diutus dan menyenangkanNYA!

Triple Filter Test

Seorang teman mengirimkan pesan BBM yang agak panjang namun menarik untuk dituliskan kembali dan menjadi bahan perenungan saya.

Begini ceritanya:
 
Source: www.allgreatquotes.com
Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan kedudukan yang sangat terhormat. Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan filsuf besar itu dan berkata, "Tahukah anda apa yang saya dengar tentang teman anda?"
Dengan santun Socrates menjawab, "Sebelum anda menceritakan apapun kepada saya, saya akan memberikan suatu tes sederhana. Ini disebut Triple Filter Test".
"Triple Filter Test?", tanya temannya. 
"Benar", jawab Socrates.
"Apa itu?", lanjut temannya bertanya.
"Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya Triple Filter Test", lanjut Socrates lagi. Temannya tampak bingung tapi dia tetap menyimak perkataan Socrates.
"Filter pertama adalah: KEBENARAN. Apakah anda yakin sepenuhnya bahwa apa yang akan anda katakan tentang teman saya itu sepenuhnya BENAR?", tanya Socrates.
"Hmmm.. saya tidak yakin juga, sebenarnya saya hanya mendengar saja tentang dia"
"Baiklah, kalau begitu kita masuk ke filter yang kedua: KEBAIKAN. Apakah yang akan anda katakan tentang teman saya itu adalah sesuatu yang BAIK?", tanya Socrates lagi.
"Wah..tidak justru sebaliknya", jawab temannya.
"Oke, jadi anda akan berbicara hal buruk tentang dia yang anda sendiri tidak yakin akan kebenarannya. Tapi baiklah, satu filter lagi yang akan kita coba: KEGUNAAN. Apakah yang akan anda katakan tentang teman saya tadi itu akan BERGUNA bagi saya?"
"Tidak, sama sekali tidak"
"Jadi...", Socrates mulai menyimpulkan, "Bila anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu BENAR, BURUK, dan bahkan tidak BERGUNA, mengapa anda harus mengatakannya kepada saya?"
Teman Socrates melongo dan garuk-garuk kepala.

Kadang kita sering seperti teman Socrates tadi, begitu mendengar suatu hal tentang orang lain yang negatif, ingin rasanya segera menyebarkan informasi itu. Informasi yang belum tentu benar, belum tentu baik, dan belum tentu berguna buat orang yang akan mendengar informasi tersebut.
 

Friday, March 8, 2013

Tokoh-tokoh Di Spongebob Squarepants Mewakili 7 Deadly Sins?!

(diterjemahkan bebas dari www.omgfacts.com)
Sumber gambar: www.coloringpagesville.com

Pengakuan mengejutkan ini muncul di audio commentary yang disertakan dalam episode ‘Plankton!’ di DVD boxset Spongebob Squarepants season pertama. Tak ada penjelasan spesifik dosa mana diwakili oleh tokoh siapa, tapi sebagai penggemar berat Spongebob Squarepants, pasti langsung tahu dong karakter-karakter yang dimaksud:
  1. GREED/Keserakahan (Mr. Krabs) - di antara semua ‘dosa’ dia adalah karakter yang paling jelas untuk jadi perbandingan. Ketamakan tokoh bernama lengkap Eugene Krabs ini terlihat jelas hampir di seluruh episode. Dia selalu memikirkan cara menghasilkan keuntungan dari teman-temannya, atau menempatkan mereka di situasi berbahaya. Di salah satu episode, Mr. Krabs bahkan menyanyikan sebuah lagu ‘If I Could Talk to Money’. Dan tahu nggak, ada halaman wiki khusus yang berisi semua rencana serakah karakter ini. 
  2. ENVY/Iri Hati (Plankton) - Bayangkan seluruh kekayaan dan keberuntungan yang dimiliki Mr. Krabs - bandingkan dengan semua kesialan dan kegagalan demi kegagalan yang dialami saingannya, Sheldon Plankton. Plankton memiliki sebuah restoran yang berjuang keras untuk tetap buka bernama The Chum Bucket dan selalu berambisi suatu hari bisa menyaingi kesuksesan pesaingnya. Tujuan hidup utamanya adalah mencuri formula Krabby Patty dan membuat Mr. Krabs gulung tikar.
  3. SLOTH/Kemalasan (Patrick) - karakter ini jelas-jelas hidup di bawah batu, apanya yang kurang jelas? Bahkan, jika kamu menganggap itu saja tidak cukup, tonton episode ‘Big Pink Loser’ yang menceritakan Patrick mendapat penghargaan sebagai yang ‘melakukan apa pun lebih lama daripada orang lain’. Tahu apa yang dia lakukan setelahnya? Kembali ke bawah batu untuk melindungi gelarnya.
  4. PRIDE/Kesombongan (Sandy) - Sandy Cheeks adalah seekor tupai yang bangga sekali dengan semua sejarah Texas di dalam dirinya. Bahkan, di salah satu episode, kesombongan itu membuatnya hampir pindah kembali ke daratan. Sandy benar-benar menikmati statusnya sebagai satu-satunya makhluk darat yang bisa tinggal di Bikini Bottom, dikelilingi ikan-ikan amisnya. Meskipun pada dasarnya tokoh ini baik hati, Sandy gampang sekali terpicu di saat muncul godaan untuk menyombongkan kebesaran kota asalnya, atau memamerkan kemampuan atletisnya dalam pertandingan karakte atau kontes angkat besi.
  5. WRATH/Kemarahan (Squidward) - Squidward Tentacles tak ragu lagi adalah karakter yang paling banyak mengekspresikan pandangan negatif tentang hidup, entah itu adalah kebenciannya bekerja di Krusty Krab, atau perasaan hinanya pada dua tetangga yang menyebalkan di kiri-kanan rumah. Dia juga selalu menolak mengakui kekurangan dirinya. Dia juga memperlihatkan penyangkalan diri ini dalam humor saskastik dan perasaan kecewanya yang berlebihan terhadap masyarakat yang nggak menghargai kreativitas dan, euh, ‘keahlian’ bermain klarinetnya.
  6. GLUTTONY/Kerakusan (Gary) - Di antara semua karakter, ini yang paling sulit dideteksi. Yang sering menonton episode Spongebob Squarepants pasti sering mendengar lelucon tentang Spongebob yang harus selalu mengingat memberi makan keong peliharaannya itu. Jujur saja, Gary tidak banyak melakukan apa pun selain makan dan mengeong, dan mengeong pun karena dia merasa lapar. Di saat Spongebob lupa memberi makan peliharaannya, Gary memakan bagian dari sofanya. Di episode lain, Gary pernah lari dari rumah karena Spongebob lupa memberinya makan. Di kesempatan lain, ketika Spongebob amnesia, Gary makan persediaan makanan selama setahun dan jadi obese berat. Nggak perlu diragukan lagi, saat dibiarkan sendirian, Gary pasti memilih untuk makan.
  7. LUST/Nafsu (Spongebob) - analogi terakhir ini mungkin akan sulit untuk diterima mengingat kecenderungan kita menghubungkan ‘nafsu’ dengan artian seksual. Definisi alternatif nafsu adalah passion: ‘keinginan penuh gairah akan sesuatu’. Teman kuning kita ini jelas adalah karakter yang dipenuhi passion. Spongebob memiliki nafsu untuk hidup tak tertandingi oleh sebagian besar karakter kartun lainnya: dia merindukan kasih sayang dari lawan maupun kawan, selalu berusaha untuk menyenangkan orang lain, dan tak akan berhenti sampai bisa menyelesaikan tugas.
Artikel menarik ini dikutip dari Gagas Media. Dicopy ke dalam blog dengan edit tata letak oleh Willy Sitompul.